Pernah mendengar lagu Iwan Fals yang berjudul ‘Tikus-tikus Kantor’? Lagu tersebut secara tajam menyindir para koruptor. Mengapa koruptor diibaratkan sebagai “tikus kantor”? Karena tikus dikenal sebagai hewan rakus, cerdik, dan suka mencuri, sifat-sifat yang dilekatkan pada pelaku korupsi. Ungkapan “tikus kantor” ini adalah salah satu contoh paling populer dari majas metafora.
Majas metafora adalah gaya bahasa yang menggunakan analogi atau perumpamaan untuk membandingkan dua hal yang berbeda secara langsung, tanpa menggunakan kata penghubung seperti ‘bagai’, ‘laksana’, atau ‘seperti’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Sederhananya, metafora “menyamakan” satu hal dengan hal lain untuk menciptakan gambaran yang lebih kuat dan imajinatif di benak pembaca atau pendengar.
Penggunaan majas ini bertujuan untuk menghidupkan suasana, memperindah kalimat, dan membuat sebuah karya terasa lebih hidup. Dari percakapan sehari-hari hingga karya sastra tingkat tinggi seperti puisi, metafora menjadi alat yang ampuh untuk menyampaikan pesan dengan cara yang lebih berkesan dan tidak membosankan.
Mengenali Metafora: Ciri-Ciri Utama
Untuk membedakan majas metafora dari gaya bahasa lainnya, ada beberapa karakteristik kunci yang bisa Anda perhatikan. Ciri-ciri ini membantu mengidentifikasi penggunaan metafora dalam sebuah kalimat atau tulisan.
Berikut adalah ciri-ciri utama majas metafora:
- Perbandingan Langsung: Metafora membandingkan dua hal secara langsung tanpa basa-basi.
- Tanpa Kata Hubung: Ciri paling menonjol adalah tidak adanya kata hubung perbandingan seperti “bagai”, “laksana”, “bak”, “umpama”, atau “seperti”.
- Menggunakan Kata Kiasan: Majas ini memakai kata atau frasa dengan makna kiasan, bukan arti harfiah atau sebenarnya.
- Berbasis Persamaan Sifat: Perbandingan dilakukan terhadap dua objek berbeda yang dianggap memiliki kemiripan, baik dari segi sifat, bentuk fisik, kondisi, maupun aktivitas.
Ragam Metafora: Dari yang Jelas hingga Tersirat
Meskipun tampak sederhana, majas metafora memiliki beberapa jenis yang dibedakan berdasarkan cara penyampaian perbandingannya. Menurut ahli bahasa, metafora dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori utama: eksplisit dan implisit, serta satu kategori tambahan untuk metafora yang sudah umum digunakan.
Metafora Eksplisit (In Praesentia)
Jenis ini disebut eksplisit karena menyajikan kedua unsur yang dibandingkan secara gamblang dalam satu kalimat. Objek yang dibicarakan dan pembandingnya hadir bersamaan, sehingga maknanya lebih mudah ditangkap.
- Contoh: “Aku adalah ikan yang ingin berenang bebas mengarungi luasnya samudra.”
Dalam kalimat ini, ‘aku’ (objek) secara jelas membandingkan dirinya dengan ‘ikan’ (pembanding).
Metafora Implisit (In Absentia)
Berbeda dengan jenis eksplisit, metafora implisit menyajikan perbandingan secara tersembunyi. Hanya salah satu unsur (biasanya kata kiasannya) yang ditampilkan, sementara objek yang sebenarnya dibandingkan tidak disebutkan secara langsung. Pembaca perlu menyimpulkan sendiri maknanya dari konteks.
- Contoh: “Si jago merah melahap habis puluhan rumah di dalam desa itu.”
Di sini, hanya ungkapan ‘si jago merah’ yang disebutkan. Kita harus menyimpulkan dari konteks bahwa yang dimaksud adalah ‘api’.
Metafora Usang atau Lama
Ini adalah jenis metafora yang ungkapannya sudah sangat lazim dan umum digunakan dalam percakapan sehari-hari. Saking seringnya dipakai, maknanya sudah dipahami oleh mayoritas orang tanpa perlu berpikir panjang.
- Contoh: “Aisyah adalah kembang desa di kampung itu.”
Ungkapan ‘kembang desa’ untuk gadis tercantik sudah menjadi kiasan yang sangat umum dan mudah dimengerti.
Galeri Contoh Majas Metafora dan Maknanya
Untuk memperdalam pemahaman, cara terbaik adalah dengan melihat langsung penerapan majas metafora dalam kalimat. Berikut adalah daftar panjang contoh majas metafora yang sering ditemui, lengkap dengan artinya.
| Kalimat dengan Majas Metafora | Ungkapan Metafora | Arti Sebenarnya |
|---|---|---|
| Ayah adalah tulang punggung keluarga. | Tulang punggung | Orang yang menafkahi atau menjadi andalan keluarga. |
| Ibu pulang membawa banyak buah tangan dari Mekkah. | Buah tangan | Oleh-oleh. |
| Kasih sayang ibu kepada buah hatinya tak pernah berhenti. | Buah hati | Anak atau anak kesayangan. |
| Jangan sampai sifat kepala batumu itu membuat teman-temanmu lelah. | Kepala batu | Keras kepala, tidak mau dinasihati. |
| Hutan itu habis dilahap si jago merah. | Si jago merah | Api. |
| Anton sering dijuluki sebagai kutu buku di kelasnya. | Kutu buku | Orang yang gemar membaca buku. |
| Pak Rudi telah menjadi tangan kanan Pak Pardi sejak lama. | Tangan kanan | Orang kepercayaan. |
| Kasus itu akhirnya dibawa ke meja hijau. | Meja hijau | Pengadilan. |
| Perempuan berdarah biru itu pergi ke luar kota. | Darah biru | Keturunan bangsawan atau keluarga kerajaan. |
| Dewi malam telah menyinarkan cahayanya dari balik awan. | Dewi malam | Bulan. |
| Raja siang sudah menampakkan diri dari ufuk timur. | Raja siang | Matahari. |
| Perusahaan itu bangkrut karena ulah tikus berdasi. | Tikus berdasi/kantor | Koruptor. |
| Pak Roni bekerja banting tulang demi keluarganya. | Banting tulang | Bekerja keras. |
| Jangan berkecil hati karena gagal, setidaknya kamu sudah mencoba. | Berkecil hati | Kecewa, hilang keberanian, atau tersinggung. |
| Pabrik yang sudah berjalan puluhan tahun itu akhirnya gulung tikar. | Gulung tikar | Bangkrut. |
Jejak Metafora dalam Sastra: Kasus Puisi Chairil Anwar
Kekuatan metafora paling terasa dalam karya sastra, terutama puisi. Salah satu contoh paling ikonik dalam sastra Indonesia adalah penggalan puisi “Aku” karya Chairil Anwar.
“Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang”
Dalam larik ini, Chairil Anwar tidak benar-benar menyebut dirinya seekor binatang. Ia menggunakan metafora “binatang jalang” untuk menggambarkan dirinya sebagai sosok yang liar, bebas, tidak mau terikat aturan, dan terasing dari lingkungannya. Perbandingan manusia dengan binatang ini menciptakan efek dramatis dan makna yang jauh lebih dalam daripada jika ia menulis, “Aku adalah manusia yang hina dan tidak tahu malu”. Penggunaan metafora ini menunjukkan kekuatan sastra untuk menyampaikan perasaan pemberontakan dan individualisme yang kuat.
Jangan Tertukar! Perbedaan Mendasar Metafora dan Simile
Banyak orang sering bingung membedakan antara majas metafora dan majas simile. Keduanya memang termasuk majas perbandingan, namun memiliki perbedaan yang sangat jelas.
- Majas Metafora: Melakukan perbandingan secara langsung dan implisit. Majas ini tidak menggunakan kata-kata penghubung seperti seperti, bagai, laksana, bak, umpama, atau serupa.
- Contoh: Pikirannya adalah pelabuhan di mana badai ide merapat.
- Majas Simile: Melakukan perbandingan secara eksplisit dengan menggunakan kata penghubung perbandingan . Kehadiran kata “seperti” atau “bagaikan” adalah ciri utamanya.
- Contoh: Wajahnya bagaikan bulan kesiangan.
Singkatnya, jika Anda menemukan kata “seperti” atau “bagai” dalam sebuah kalimat perbandingan, itu adalah simile. Jika tidak ada, kemungkinan besar itu adalah metafora.
Kesimpulan: Kekuatan Metafora dalam Berbahasa
Majas metafora adalah lebih dari sekadar hiasan dalam kalimat. Ia adalah alat fundamental dalam bahasa yang memungkinkan kita untuk mengungkapkan ide-ide kompleks, membangkitkan imajinasi, dan menyampaikan perasaan dengan cara yang lebih mendalam dan penuh warna. Dengan membandingkan dua hal yang berbeda secara langsung, metafora membuka pintu menuju pemahaman baru dan membuat komunikasi menjadi lebih hidup dan menarik.
Dari obrolan santai hingga puisi yang menggugah jiwa, metafora membuktikan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk menciptakan keindahan dan makna. Dengan memahami apa itu majas metafora, kita dapat lebih menghargai kekayaan bahasa dan kekuatan luar biasa yang dimilikinya dalam komunikasi manusia.









