Dalam percakapan sehari-hari maupun tulisan formal, kata “perubahan” dan “pengubahan” sering kali digunakan secara bergantian. Namun, keduanya memiliki makna dan konteks penggunaan yang berbeda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Memahami perbedaan ini krusial, sebab “perubahan” merujuk pada keadaan yang telah berubah, sementara “pengubahan” menunjuk pada proses atau perbuatan mengubah sesuatu.
Kekeliruan ini lumrah terjadi karena kedua kata tersebut berasal dari kata dasar yang sama, yaitu “ubah”. Keduanya pun sama-sama merupakan kata baku dalam bahasa Indonesia dan tercantum dalam KBBI.
Meskipun begitu, perbedaan nuansa maknanya cukup signifikan. Kunci untuk membedakannya terletak pada kata kerja yang membentuknya: berubah dan mengubah. Mari kita telusuri lebih dalam agar tidak lagi keliru dalam penggunaannya.
Akar Perbedaan: Verba Berubah dan Mengubah
Untuk memahami perbedaan antara “perubahan” dan “pengubahan”, kita harus kembali ke bentuk kata kerjanya. Di sinilah letak perbedaan mendasar keduanya.
Berubah (Verba Intransitif)
Kata kerja berubah bersifat intransitif, artinya tidak memerlukan objek. Subjek dalam kalimat adalah pihak yang mengalami perubahan. Penyebab perubahan ini sering kali berasal dari dalam, tidak diketahui, atau tidak dianggap penting untuk disebutkan.
Contohnya:
- Cuaca berubah secara drastis.
- Sikapnya tiba-tiba berubah.
Dalam kedua kalimat tersebut, fokusnya adalah pada kondisi cuaca dan sikap yang menjadi lain dari semula, tanpa menyoroti siapa atau apa yang menyebabkannya.
Mengubah (Verba Transitif)
Sebaliknya, mengubah adalah kata kerja transitif yang membutuhkan objek. Ada pelaku (subjek) yang secara aktif melakukan tindakan mengubah sesuatu (objek). Penyebab atau agen perubahannya jelas, dapat diketahui, dan menjadi bagian penting dari informasi.
Contohnya:
- Pemerintah mengubah kebijakan ekonomi.
- Dia mengubah susunan kalimat itu.
Di sini, ada subjek (“pemerintah”, “dia”) yang melakukan aksi (“mengubah”) terhadap objek (“kebijakan ekonomi”, “susunan kalimat”).
Makna “Perubahan” Menurut KBBI

Kata “perubahan” dibentuk dari verba berubah dengan imbuhan konfiks per-...-an. KBBI mendefinisikan “perubahan” sebagai “hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran”.
Fokus pada Hasil atau Keadaan
Makna “perubahan” lebih menekankan pada hasil akhir atau keadaan yang sudah berbeda dari semula. Kata ini tidak mementingkan proses atau siapa pelaku di baliknya.
Oleh karena itu, kita sering mendengar frasa seperti:
- Perubahan iklim global.
- Perubahan sistem pendidikan di era digital.
- Perubahan sosial di masyarakat.
Dalam semua contoh ini, yang disorot adalah fenomena atau keadaan yang telah beralih, bukan siapa yang secara spesifik melakukannya.
Makna “Pengubahan” Menurut KBBI
Di sisi lain, kata “pengubahan” berasal dari verba mengubah yang mendapat imbuhan konfiks peng-...-an. KBBI mendefinisikannya sebagai “proses, cara, perbuatan mengubah”.
Fokus pada Proses atau Tindakan
Berbeda dengan “perubahan”, “pengubahan” secara eksplisit menunjuk pada sebuah proses, aksi, atau perbuatan yang disengaja oleh suatu pihak. Ada agen yang aktif dan objek yang dikenai tindakan.
Contoh penggunaannya yang tepat adalah:
- Pengubahan UUD dilakukan oleh MPR.
- Pengubahan struktur organisasi perusahaan bertujuan meningkatkan efisiensi.
- Proses pengubahan nama jalan sedang berlangsung.
Contoh klasik yang sering digunakan para ahli bahasa adalah “pengubahan UUD”, bukan “perubahan UUD”. Hal ini karena UUD tidak berubah dengan sendirinya, melainkan diubah oleh lembaga yang berwenang (MPR).
Tabel Perbandingan
Untuk mempermudah, berikut adalah rangkuman perbedaannya:
| Aspek | Perubahan | Pengubahan |
|---|---|---|
| Kata Kerja Dasar | berubah (intransitif) | mengubah (transitif) |
| Fokus Makna | Hasil, keadaan, peralihan | Proses, cara, perbuatan |
| Kebutuhan Objek | Tidak memerlukan objek | Memerlukan objek |
| Peran Pelaku | Tidak penting, tidak diketahui | Penting, diketahui, atau dapat dirunut |
| Definisi KBBI | Hal (keadaan) berubah | Proses, cara, perbuatan mengubah |
| Contoh Frasa | Perubahan cuaca | Pengubahan susunan kalimat |
Fakta Menarik: Jangan Merubah Menjadi Rubah
Di tengah kebingungan antara “perubahan” dan “pengubahan”, ada satu lagi kesalahan umum yang sulit diubah, yaitu penggunaan kata “merubah” alih-alih “mengubah”.
Menurut kaidah morfologi bahasa Indonesia, kata dasar “ubah” ketika mendapat awalan meN- akan menjadi “mengubah”, bukan “merubah”.
Kata “merubah” sebetulnya bisa dianggap kata baku, tetapi maknanya sama sekali berbeda. Kata ini berasal dari kata dasar “rubah”, yang berarti hewan sejenis anjing. Jadi, secara harfiah, “merubah” berarti “menjadi seperti rubah”.
Kesalahan ini diduga muncul karena penutur menyamakan polanya dengan kata berubah, seolah-olah kata dasarnya adalah “rubah”. Jadi, pastikan Anda menggunakan “mengubah” saat merujuk pada tindakan mengganti sesuatu menjadi lain. Ulasan lengkapnya silakan baca di sini: Merubah atau Mengubah? Mana yang Tepat Menurut KBBI dan Kaidah Bahasa Indonesia?
Bahasa Itu Hidup dan Terus Berubah
Perdebatan seputar “perubahan” dan “pengubahan” adalah cerminan dari sifat bahasa yang dinamis. Bahasa Indonesia, seperti bahasa lainnya, terus berevolusi seiring perkembangan teknologi, sosial, dan budaya.
Setiap tahun, muncul istilah-istilah baru yang memperkaya kosakata kita. Pada tahun 2024, misalnya, istilah seperti social commerce, ngabers, green economy, dan sustainability menjadi semakin populer dan masuk dalam percakapan sehari-hari.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa selalu beradaptasi. Memahami kaidah dasar seperti perbedaan “perubahan” dan “pengubahan” menjadi fondasi penting untuk berkomunikasi secara presisi di tengah arus evolusi bahasa yang cepat ini.
Pada akhirnya, baik “perubahan” maupun “pengubahan” adalah kata yang benar dan tercantum dalam KBBI. Namun, penggunaannya bergantung pada konteks yang ingin disampaikan.
Gunakan “perubahan” ketika Anda ingin berbicara tentang hasil atau keadaan yang telah beralih. Sebaliknya, gunakan “pengubahan” ketika Anda merujuk pada proses atau tindakan aktif untuk membuat sesuatu menjadi berbeda.
Dengan memahami nuansa ini, kita tidak hanya menunjukkan penguasaan bahasa Indonesia yang baik, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan dengan lebih jernih, akurat, dan profesional.









